2 Ekor Penghuni Baru

 Bulan November ini Yayasan IAR Indonesia kedatangan 2 ekor penghuni baru.
          Pagi itu tanggal 15 November 2012 adalah hari libur Nasional dan waktunya beristirahat bagi masyarakat secara umum tetapi bagi tim satwa mungkin akan berbeda karena harus selalu siap apabila ada laporan dari masyarakat tentang keberadaan satwa yang harus di rescue (selamatkan), satu ekor jenis Monyet ekor panjang ini bernama Milo, satwa betina ini adalah “milik” seorang Kolonel Asep Subadri yang menghubungi Yayasan IAR Indonesia untuk segera diamankan karena sudah menggangu kenyamanan warga penghuni di sekitar perumahan Beliau. Milo adalah satwa peliharaan Bapak Asep sejak 2 tahun yang lalu merupakan pemberian dari seorang teman, dan setelah semakin besar Milo tentu saja naluri sebagai satwa liar akan muncul dan tidak baik untuk masyarakat karena memang bukan hewan peliharaan sehingga dengan kekuatan sebagai satwa liar kemungkinan lepas dari tali ikatan diperutnya juga beresiko untuk terlepas. Banyak data bahwa hampir semua satwa liar terutama jenis primata yang sudah terlanjur berinteraksi dengan manusia kecenderungan berpenyakit tkarena tanpa disadari bahwa sesama jenis primata seperti monyet dan manusia seperti kita akan mudah saling menularkan penyakit, perbedaan primata lain dengan manusia adalah apapila manusia terjangkit penyakit akan langsung bereaksi seperti deman atau muncul batuk pada penderita TBC tetapi pada jenis monyet akan terlihat sehat tetapi pada saat terdeteksi dan pembedahan pada organ tubuh akan terlihat banyak bakteri diparu-parunya, hal inilah yang berbahayakan bagi manusia dan satwa liar itu sendiri.

             “Maripili adalah seekor Kukang jawa (N.javanicus) jenis kelamin betina berhasil di rescue pada hari Kamis tanggal 29 November 2012 oleh tim awareness  di Jakarta Utara. Kukang “Maripili” ini sudah dipelihara oleh pemilik selama 7 bulan dengan kondisi berat badan 640 gram dan malnutrisi, rata-rata Kukang dialam berat badan idealnya adalah sekitar 800-1000 gram. Permasalahan inilah yang sama dialami satwa liar yang dipelihara selain berpenyakit juga malnutrisi atau kekurangan gizi dan dehidrasi. Sebaik-baiknya kita memperlakukan satwa liar sebagai hewan peliharaan tidak akan sebaik dan sejahtera seperti di habitat alaminya, karena kita sebagai manusia tidak akan dapat menjamin kesejahteraan satwa dikandang karena secara alami satwa dapat memenuhi kebutuhan alami mereka dari alam!.

Oleh: Ayut Enggeliah Entoh
Staff Eduksi dan Permberdayaan Yayasan IAR Indonesia
Hp: 081 234 075 917

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit