15 Individu Kukang Jawa Korban Perdagangan Kini Jalani Habituasi di SM Gunung Sawal

by in News, Release Berita, Updates 8 February, 2018

Sebanyak 15 individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) jalani proses habituasi di Suaka Margawatwa (SM) Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat, Selasa, 6 Februari 2018. Habituasi merupakan tahap akhir bagi kukang sebelum benar-benar dilepasliarkan dan bebas di alam liar.

Kukang yang dihabituasi kali ini terdiri dari 5 individu jantan dan 10 individu betina, masing-masing adalah Jagara, Cisa, Gemblong, Kumal, Jona, Dores, Gini, Gaza, Rusma, Elsa, Also, Kucel, At, Budiman dan Lola.

Kelima belas primata yang dilindungi tersebut merupakan barang bukti hasil penyitaan penegak hukum Kepolisian di Tasikmalaya dan Bandung pada 2016 dari sindikat perdagangan kukang.

Mereka sudah siap dikembalikan ke alam bebas setelah melewati serangkaian perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Kaki Gunung Salak, Ciapus, Bogor, Jawa Barat.

“Semua satwa sudah menjalani proses rehabilitasi yang cukup panjang. Mulai dari karantina, pemeriksaan medis, observasi perilaku, pengayaan pakan hingga mereka lulus, dinyatakan sehat dan siap ditranslokasi untuk jalani habituasi,” ujar Prameswari Wendi, Manager Animal Care IAR Indonesia.

Tim dibantu dengan relawan dan masyarakat lokal mengantar 15 individu kukang jawa ke kawasan habituasi di SM Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Tim dibantu dengan relawan dan masyarakat lokal mengantar 15 individu kukang jawa ke kawasan habituasi di SM Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Wendi menambahkan, proses rehabilitasi dilakukan untuk mengembalikan sifat liar alaminya. “Kondisi kukang yang menjadi korban perdagangan umumnya sangat memprihatinkan. Mereka mengalami trauma, stres dan malnutrisi akibat ditumpuk dan disimpan di tempat yang kotor serta sempit,” tambahnya.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele Llano Sanchez mengatakan, selesai menjalani masa rehabilitasi, primata soliter itu kemudian ditranslokasi/dipindahkan ke kawasan habituasi di kawasan SM Gunung Sawal untuk proses adaptasi dan pemulihan setelah melakukan perjalanan jauh.

“Bentuk habituasi atau rumah sementara kukang adalah lahan terbuka yang dikelilingi fiber. Di dalamnya tumbuh berbagai jenis pepohonan hijau untuk pakan dan tempat tidur kukang. Selama sekitar dua hingga empat minggu kukang dibiarkan beradaptasi dengan habitat dan pakan alaminya,” tuturnya.

Selama jalani habituasi, tim akan tetap mengamati dan mencatat perkembangan perilaku primata nokturnal itu setiap malamnya. “Jika selama masa habituasi semua kukang aktif dan tidak ada perilaku abnormal, maka barulah mereka benar-benar bisa dilepasliarkan ke alam bebas,” tambahnya.

Proses yang panjang

Untuk mengembalikan kukang ke alam liar, nyatanya tidak semudah memburu atau mengambilnya di alam. Membutuhkan tenaga dan biaya besar untuk mempersiapkan kukang kembali ke habitatnya. Proses dan tahapan yang harus dilalui juga membutuhkan waktu relatif panjang dan harus sesuai standar prosedur operasional yang ketat.

Selain itu, penilaian habitat di lokasi pelepasliaran, habituasi, kemudian pemantauan pasca lepasliar hingga dinyatakan sukses bertahan hidup di alam adalah proses yang harus dilalui dengan detail dan seksama.

“Pemantauan pasca pelepasliaran akan berlangsung minimal 6 bulan. Proses pemantauan dibantu dengan radio transmitter. Mereka dipasangi radio collar yang akan memancarkan sinyal ke radio receiver. Alat tersebut membantu tim monitoring kukang untuk mengetahui keberadaannya dan memantau perkembangan adaptasinya di alam,” terang Karmele.

Satu individu kukang bernama Gemblong memanjat pohon pertamanya di kawasan habituasi SM Gunung Sawal. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Satu individu kukang bernama Gemblong memanjat pohon pertamanya di kawasan habituasi SM Gunung Sawal. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Program konservasi kukang di SM Gunung Sawal merupakan kerjasama antara Balai Besar KSDA Jawa Barat dengan International Animal Rescue (IAR) Indonesia. Habituasi kukang jawa di kawasan SM Gunung Sawal merupakan salah satu upaya untuk mendukung berlangsungnya proses ekologis di dalam kawasan, serta untuk menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata sebagai satwa endemik yang jumlahnya kian minim.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Himawan Sasongko mengatakan, sejak tahun 2014 sebanyak sekitar 39 kukang hasil rehabilitasi IAR dan serahan warga ke BKSDA Ciamis sudah dilepasliar ke SM. Gunung Sawal.

“SM Gunung Sawal sendiri sudah diketahui merupakan salah satu habitat alami kukang jawa yang penting di wilayah Ciamis, selain juga merupakan kantong habitat macan tutul jawa. Dari hasil kajian tim IAR dan  Bidang KSDA, kawasan tersebut memiliki potensi cukup bagus dari segi segi ketersedian pakan, tempat berlindung dan air sebagai komponen penting suatu habitat,” ujarnya.

Habituasi bertujaun untuk memulihkan kondisi kukang dari perjalanan jauh. Selain itu, selama habituasi kukang akan beradaptasi dan mulai mengenal pakan alaminya. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Habituasi bertujaun untuk memulihkan kondisi kukang dari perjalanan jauh. Selain itu, selama habituasi kukang akan beradaptasi dan mulai mengenal pakan alaminya. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Kukang (Nycticebus sp) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Ada tiga jenis kukang di Indonesia yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) Redlist kukang jawa termasuk dalam kategori kritis atau terancam punah sedangkan kukang sumatera dan kalimantan termasuk dalam kategori rentan punah.

Leave a Reply

    Cart